Less is More: Hidup Minimalis Yang Menyenangkan

Terinspirasi dari video beres-beres rumah Marie Kondo, sebenarnya sejak beberapa tahun lalu saya rutin membersihkan rumah dan isi gudang. Maklum karena rumah yang tidak terlalu besar, perlu sekali untuk selalu merapihkan isi rumah dari barang-barang yang sudah tidak diperlukan lagi, agar rumah tidak terasa sempit. Tapi rasanya sejak pandemi, saya belum pernah clean-up lagi deh, sibuk mikirin kesehatan dulu, dan akibatnya tidak terasa barang-barang mulai numpuk, berserakan dimana-mana.

Untuk pakaian dan sepatu tidak ada masalah, karena selama 2 tahun ini saya belum pernah beli sepatu lagi, dan hanya ada beberapa baju baru. Jadi lemari baju masih aman. Tidak banyak yang bisa dibuang.

Masalah muncul ketika beberes barang-barang kecil yang seringkali dibeli di online shop, karena harganya ‘murah’ dan ‘lucu’. Maklumlah selama pandemi, salah satu hobi baru yang muncul adalah belanja di online shop. Maka tergelarlah aneka kabel, connector, aksesoris, dan printilan-printilan lainnya. Sebagian bermanfaat namun banyak juga yang tidak jadi dipakai karena salah beli, salah ukuran, dan tidak sesuai harapan. Nah, barang-barang inilah yang banyak memenuhi rumah saya belakangan ini.

Keep only those things that speak to your heart. Then take the plunge and discard all the rest. By doing this, you can reset your life and embark on a new lifestyle.

Marie Kondo

Seperti biasa cara saya menyeleksi barang yang akan disimpan atau akan disingkirkan (jangan bilang dibuang ah…) adalah dengan memegangnya satu per satu. Barang yang saya rasa membawa kebahagiaan akan saya simpan, sementara barang yang membawa kenangan buruk, lebih baik disingkirkan jauh-jauh.

Langkah berikutnya dalam seleksi barang adalah bertanya cepat ke diri sendiri apakah benda ini akan terpakai lagi di kemudian hari atau tidak. Kalau jawabannya tidak, atau mikirnya lama dan ragu antara terpakai atau tidak, barang ini calon disingkirkan juga.

Daaaan, karena kebanyakan saya belinya karena impulsif, tidak didasari pemikiran yang matang ketika membeli, rata-rata barang-barang aksesoris ini tidak saya butuhkan lagi. Juga karena murah, barang-barang ini built quality nya tidak terlalu baik, mudah rusak. Tidak terasa terkumpul 2 karung sampah besar untuk barang-barang yang disingkirkan ini.

Hasilnya area kerja di rumah jadi terasa lebih lebar (padahal ukurannya segitu-segitu aja), dan jadi lebih nyaman. Walau pandemi sudah hampir usai, dan aktivitas saya akan lebih banyak di luar rumah, memiliki area kerja pribadi yang nyaman di rumah akan tetap menjadi kebutuhan. Entah sekedar untuk menyelesaikan report kantor, membuat tulisan untuk blog ini, atau mencari inspirasi.

workstation

Siapa itu Marie Kondo

Marie Kondo adalah wanita asal Tokyo Jepang yang berprofesi sebagai konsultan tata ruang, penyiar acara TV sekaligus penulis. Dia masuk dalam daftar ‘100 Tokoh Paling Berpengaruh’ menurut majalah Time pada 2015 lalu. Dia mendobrak tata cara beres-beres ala orang kebanyakan dengan bukunya, ‘The Life Changing Magic of Tidying Up‘, yang berisi cara-cara membereskan rumah dengan rapi dan seketika.

Bahkan Netflix membuat serial khusus bertajuk ‘Tidying Up with Marie Kondo‘ yang menampilkan sosoknya mengunjungi beberapa rumah untuk membantu merapikannya.

Berikut 5 tips dari Marie Kondo untuk merapihkan rumah yang selalu saya pakai:

  1. Setiap orang harus tahu apa yang layak disimpan dan apa yang harus dibuang
  2. Simpan barang-barang yang memicu kebahagiaan
  3. Pastikan semua barang memiliki tempat tersendiri
  4. Singkirkan dokumen yang tidak perlu
  5. Isilah ruang dengan kesenangan

 

Tags:

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Cerita Saya
Logo
Enable registration in settings - general
Compare items
  • Total (0)
Compare
0